Batang Kabupaten Batang kembali mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi yang kian memikat. Hingga memasuki triwulan ketiga tahun 2026, laju penanaman modal di daerah ini melonjak tajam hingga berhasil melampaui target nasional yang ditetapkan.
Batang – Kabupaten Batang kembali mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi yang kian memikat. Hingga memasuki triwulan ketiga tahun 2026, laju penanaman modal di daerah ini melonjak tajam hingga berhasil melampaui target nasional yang ditetapkan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Batang Margo Santosa melalui Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya DPMPTSP Batang Sri Cahyaningrum mengatakan, secara akumulatif sejak Januari hingga September 2026, realisasi investasi di Kabupaten Batang telah menembus angka fantastis, yakni Rp8,8 triliun. Angka ini secara tegas melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang dipatok sebesar Rp7,2 triliun, sekaligus mengungguli target nasional sebesar Rp8,1 triliun.
“Khusus pada triwulan III 2026 saja, arus modal yang masuk tercatat mencapai Rp2,6 triliun. Penanaman Modal Luar Negeri (PMA) masih mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp2,3 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp227,1 miliar,” katanya saat ditemui di Kantornya, Jumat (16/10/2026).
Kabar baiknya, geliat investasi ini tak sekadar menjadi cerminan angka-angka statistik, melainkan memberi dampak langsung terhadap perekonomian warga lokal. Sebanyak 5.184 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) baru berhasil terserap hanya dalam periode triwulan ketiga ini. Jika ditotal dari awal tahun hingga September, angka penyerapan tenaga kerja di Batang sudah menyentuh 13.513 orang.
“Realisasi investasi Kabupaten Batang pada triwulan 3 Tahun 2026 tercapai Rp2,6 triliun. Capaian ini berasal dari realisasi PMA sebesar Rp2,3 triliun dan PMDN Rp227,1 miliar,” jelasnya.
Sri menjelaskan, pergerakan roda investasi periode ini ditopang oleh lima sektor utama. Sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp835,5 miliar. Posisi berikutnya diisi oleh Industri Lainnya sebesar Rp304,3 miliar, serta Industri Tekstil sebesar Rp291,6 miliar.
“Selain itu, Sektor Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki turut memberi dorongan signifikan sebesar Rp266,2 miliar, disusul Industri Makanan senilai Rp224,1 miliar. Terkait dengan tambahan serapan tenaga kerja, sektor yang menyerap tenaga kerja baru terbesar pada triwulan 3 adalah Industri Lainnya, yang menyerap sebanyak 1.946 tenaga kerja, diikuti Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki 1.187 tenaga kerja, dan Industri Kayu 497 tenaga kerja,” terangnya.
Meski capaian nilai investasi dan penyerapan tenaga kerja di Batang terbilang mengesankan, pemetaan posisi pasti Kabupaten Batang di tingkat Jawa Tengah masih menunggu kompilasi data regional.
“Mengingat persaingan penanaman modal di Jawa Tengah cukup ketat terutama berhadapan dengan wilayah industri besar seperti Kabupaten Kendal dan Kota Semarang yang juga mematok capaian tinggi Batang optimistis tetap berada di barisan terdepan papan atas daerah tujuan investasi terbaik,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)