Batang - Di balik indahnya hamparan hijau persawahan di Kabupaten Batang, ada perjuangan tak henti untuk memastikan setiap bulir air sampai ke akar tanaman petani. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Pemerintah Kabupaten Batang terus menggenjot pembenahan saluran irigasi agar nadi pertanian daerah ini tidak terputus.
Batang - Di balik indahnya hamparan hijau persawahan di Kabupaten Batang, ada perjuangan tak henti untuk memastikan setiap bulir air sampai ke akar tanaman petani. Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Pemerintah Kabupaten Batang terus menggenjot pembenahan saluran irigasi agar nadi pertanian daerah ini tidak terputus.
Bukan tugas yang sepele. DPUPR Batang bertanggung jawab mengelola 599 daerah irigasi yang membentang demi mengairi total 20.329 hektare lahan pertanian. Langkah telaten ini perlahan membuahkan hasil; hingga pertengahan tahun ini, wajah jaringan pengairan di Batang makin membaik.
Kepala Bidang Pengairan DPUPR Batang Muhammad Luthfi mengatakan, untuk per Juni 2026, kondisi baik itu 14.295 hektare atau 70,31 persen. Capaian tersebut bisa terkatrol hingga 72 persen pada akhir 2026. Guna mengejar target itu, 20 titik lokasi daerah irigasi tengah digarap tahun ini lewat program peningkatan dan rehabilitasi, yang berpotensi memulihkan jaringan pengairan bagi 460 hektare sawah. Secara berkala, Pemkab Batang merancang agar kondisi areal irigasi yang baik ini konsisten naik sekitar dua persen saban tahun.
“Lantas, bagaimana dengan saluran yang belum prima. Bahwa sebagian besar jaringan tersebut hanya mengalami kerusakan tingkat sedang. Saluran masih mampu menyalurkan air, meski belum optimal. Rusak sedang berarti masih bisa. Akan tetapi memang kondisinya masih banyak kebocoran,” katanya saat ditemui di Kantornya, Rabu (29/7/2026).
Ujian pengairan tak cuma datang dari keausan material, tapi juga cuaca. Dari 52 titik yang sempat dihantam banjir, sekitar 30 bendung terdampak cukup parah. Namun, respon cepat langsung diambil lewat penanganan darurat agar pasokan air ke sawah warga tak lantas terhenti.
“Beruntung, alam Batang cukup ramah. Melimpahnya pasokan air permukaan menjadi benteng pertahanan utama saat ada jaringan yang bermasalah. Untungnya di Batang itu sumber airnya banyak,” jelasnya.
Melimpahnya pasokan ini membuat distribusi air tidak sepenuhnya tergantung pada satu jalur. Jika terjadi kebocoran di satu titik bendungan, para petani kerap masih bisa mengandalkan aliran dari bendungan pengganti di sekitarnya.
“Merawat ratusan saluran membutuhkan napas panjang dan modal yang tak sedikit. Idealnya, DPUPR Batang harus merehabilitasi sekitar 1.000 hektare jaringan irigasi per tahun. Namun dengan keterbatasan anggaran daerah saat ini, kapasitas perbaikan baru menyentuh angka 500 hektare per tahun,” terangnya.
Demi menutupi celah tersebut, Pemkab Batang bergerilya menggaet sokongan dana dari pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025. Tak tanggung-tanggung, proposal senilai Rp55 miliar hingga Rp60 miliar telah disodorkan untuk membenahi jaringan irigasi primer, sekunder, hingga tersier.
“Jika usulan ini direstui, pengerjaannya kelak akan dieksekusi melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Kini, DPUPR Batang menanti kabar baik tersebut sembari terus bekerja di lapangan. Bagi Kabupaten Batang, membenahi irigasi sejatinya bukan sekadar menyambung pipa atau menambal semen yang retak. Setiap meter saluran yang diperbaiki adalah jaminan bagi produktivitas petani dan benteng terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)