Batang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, menggagas program inovatif berjudul KETAN BUDAYA (Kolaborasi Pelestarian Budaya) dengan mengangkat Dolanan Anak atau Permainan Tradisional sebagai kurikulum pembelajaran Sekolah Dasar (SD).
Batang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, menggagas program inovatif berjudul “KETAN BUDAYA” (Kolaborasi Pelestarian Budaya) dengan mengangkat Dolanan Anak atau Permainan Tradisional sebagai kurikulum pembelajaran Sekolah Dasar (SD).
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Batang Nurlaili Endahwati mengatakan, di era serba teknologi seperti sekarang, anak-anak lebih cenderung bermain gadget daripada untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.
“Sehingga, kami perlu mengintegrasikan pelestarian budaya lokal yang dalam hal ini adalah dolanan anak atau permainan tradisional ke dalam kurikulum pendidikan SD agar budaya lokal kita tidak punah,” katanya saat meninjau program Dolanan Anak di SD Negeri Kasepuhan 3, Kabupaten Batang, Jumat (19/6/2026).
Ia juga menjelaskan ada 10 macam dolanan anak yang nanti akan diberikan kepada anak-anak yaitu Congklak, Seprengan, Sudamanda, Yoyo, Egrang, Owal-Awil, Gobak Sodor, Bekelan, Nekeran dan Beber/DAM DAS.
Sementara itu, Kepala SDN Kasepuhan 3 Imam Dwi Ajitama, mengaku sangat mendukung program inovatif seperti ini, karena dolanan anak tidak hanya sekadar permainan saja, tetapi juga dapat dijadikan media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
“Contohnya dalam permainan dakon, di dalamnya juga terdapat pembelajaran operasi hitung bilangan atau matematika. Contoh lain dalam permainan egrang, lanjutnya, itu juga ada ilmu sainsnya mulai dari pengenalan tentang bambu, ciri-ciri bambu, daunnya seperti apa, dan lainnya,” jelasnya.
Selain itu, dalam permainan egrang, juga ada ilmu teknologi atau engineeringnya, yaitu dengan cara peserta didik diajarkan untuk merangkai bambu dengan cara dipotong lalu diukur sudutnya, hingga jadi sebuah alat permainan egrang.
Imam juga menjelaskan, program Dolanan Anak juga bisa mendukung strategi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan 8 Dimensi Profil Lulusan, yaitu Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan SWT, kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan dan Komunikasi yang perlu dikuasai oleh anak di setiap akhir jenjang pendidikan.
“Contohnya permainan egrang, ada unsur kreativitas dari membuat egrangnya, lalu ada unsur kolaborasi yang di mana misalkan ada salah satu anak yang tidak bisa bermain egrang maka temannya ikut membantu memegangi egrangnya, lalu jelas ada unsur komunikasinya juga, nah ini yang bisa dibangun lewat dolanan anak,” terangnya.
Ia berharap, program ini bukan hanya sekadar rancangan saja, tetapi juga bisa diimplementasikan secara nyata di sekolah-sekolah dasar se-Kabupaten Batang.
Salah satu siswa Ibnu, menyambut baik program ini dan senang bisa bermain permainan yang sebelumnya dia tidak pernah memainkannya.
“Saya terkadang kalau di rumah sama teman-teman juga main permainan tradisional tetapi yang saya bisa hanya egrang dan sudamanda (engklek), tadi pertama kalinya diajarkan main gobak sodor dan ternyata seru,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Ardhy/Jumadi)