Batang - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Batang terus melakukan pemantauan harian terhadap harga bahan pokok penting (bapokting) di pasar tradisional guna menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan masyarakat tetap aman pascapenyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Batang - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Batang terus melakukan pemantauan harian terhadap harga bahan pokok penting (bapokting) di pasar tradisional guna menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan masyarakat tetap aman pascapenyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kepala Disperindagkop Batang Wahyu Budi Santoso mengatakan, pemantauan dilakukan terhadap 20 komoditas bahan pokok penting yang menjadi indikator pergerakan harga di pasar tradisional.
“Dalam laporan bapokting ada sekitar 20 komoditas yang dipantau setiap hari. Kalau sembako itu hanya sebagian, sekitar sembilan komoditas, sehingga cakupan bapokting lebih luas,” katanya saat ditemui di Kantor Disperindagkop Kabupaten Batang, Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah kebutuhan pokok utama di Kabupaten Batang masih terpantau stabil. Harga beras premium berada di angka Rp14.500,00 per kilogram, beras medium Rp13.500,00 per kilogram, gula pasir lokal Rp17.500,00 per kilogram, daging sapi murni Rp14 ribu per kilogram, daging ayam ras Rp38 ribu per kilogram, dan telur ayam ras Rp29 ribu per kilogram. Untuk kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga kedelai impor naik Rp1.400,00 menjadi Rp13.500,00 per kilogram dan ayam kampung naik Rp5 ribu menjadi Rp85 ribu per kilogram.
“Sementara itu, beberapa komoditas hortikultura justru mengalami penurunan harga. Cabai rawit hijau turun Rp4 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, cabai merah teropong turun Rp5 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, dan cabai merah keriting turun cukup signifikan sebesar Rp1 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram,” jelasnya.
Menurut Wahyu, penurunan harga sejumlah komoditas tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya produksi dan ketersediaan barang di pasar. Kalau stok barang melimpah dan produksi meningkat, biasanya harga ikut turun. Ini yang terjadi pada beberapa jenis cabai.
“Meski demikian, Disperindagkop mencatat terdapat komoditas tertentu yang mulai mengalami kenaikan harga, salah satunya bawang putih,” terangnya.
Pihaknya juga masih terus memantau kemungkinan dampak kenaikan harga BBM non subsidi terhadap kebutuhan pokok masyarakat. Namun, hingga saat ini pengaruhnya dinilai belum terlalu signifikan karena kebijakan tersebut baru berjalan dalam waktu singkat.
“Kenaikan harga BBM ini baru berlangsung sejak tadi malam, jadi dampaknya terhadap harga bahan pokok belum terlalu terasa. Biasanya efek perubahan biaya distribusi baru terlihat sekitar satu minggu ke depan,” imbuhnya.
Selain memantau kondisi pasar di Batang, Disperindagkop juga mencermati perkembangan harga di sejumlah daerah lain, termasuk anjloknya harga daging ayam di beberapa wilayah akibat menurunnya permintaan dari pelaku usaha tertentu.
Sebagai langkah antisipasi, Disperindagkop Kabupaten Batang akan terus melakukan monitoring intensif terhadap pergerakan harga dan stok bapokting agar stabilitas pasokan tetap terjaga serta masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh kebutuhan pokok.
“Kami terus melakukan pemantauan setiap hari untuk memastikan stok aman dan harga tetap terkendali. Kalau ada gejolak, tentu akan segera kami koordinasikan dengan pihak terkait,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)