Batang - Dunia pendidikan di Kabupaten Batang baru saja mengambil langkah besar menuju masa depan. Sebanyak 65 guru dari jenjang TK, SD, SMP, SMASMK, berkumpul untuk menjinakkan teknologi Artificial Intelligence (AI), dengan trik khusus, di Aula SMPN 1 Batang, Kabupaten Batang, Rabu (1352026).
Batang - Dunia pendidikan di Kabupaten Batang baru saja mengambil langkah besar menuju masa depan. Sebanyak 65 guru dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK, berkumpul untuk menjinakkan teknologi Artificial Intelligence (AI), dengan trik khusus, di Aula SMPN 1 Batang, Kabupaten Batang, Rabu (13/5/2026).
Ketua penyelenggara, Dinok Sudiami menjelaskan workshop ini diinisiasi atas kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Kendal Batang (UMKABA) dan APKS PGRI Kabupaten Batang. Para pendidik ditantang untuk mengubah pandangan bahwa AI akan menggantikan peran guru.
“Sebaliknya, AI hadir sebagai "asisten super" yang siap meringankan beban kerja mereka guna mempermudah administrasi dan memperkaya proses pembelajaran di kelas,” jelasnya.
Ketua PGRI Batang M. Arief Rohman menekankan, bahwa guru di Batang tidak boleh gagap teknologi. Para guru harus berupaya menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi saat ini.
Hadir pula sebagai bintang tamu, pakar dari Tim Pengembang Kurikulum Provinsi Jawa Tengah Utomo membedah tuntas bagaimana AI bisa menjadi solusi nyata. Menurutnya, AI bukan untuk membuat malas, tapi untuk membuat guru lebih strategis.
“Jika administrasi bisa selesai dalam hitungan menit berkat bantuan AI, maka guru punya waktu lebih banyak untuk fokus pada sisi kemanusiaan murid, yakni karakter dan empati,” tuturnya.
Dalam sesi praktik, para peserta diajak melakukan dua hal besar yakni Otomasi Administrasi, menggunakan alat AI untuk menyusun modul ajar dan asesmen secara cepat namun tetap akurat dan Inovasi Pembelajaran: Menciptakan konten belajar interaktif yang mampu membuat murid betah di kelas tanpa merasa sedang "dicekoki" teori.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Batang untuk mulai mengintegrasikan teknologi secara bijak. AI mungkin punya algoritma, tapi guru punya hati. Dan ketika keduanya berpadu, kualitas pendidikan anak bangsa adalah pemenangnya,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)