Batang - Sektor peternakan di Kabupaten Batang tengah menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Bukan karena kurangnya pakan atau lahan, melainkan karena krisis tenaga medis veteriner yang sangat timpang.
Batang - Sektor peternakan di Kabupaten Batang tengah menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Bukan karena kurangnya pakan atau lahan, melainkan karena krisis tenaga medis veteriner yang sangat timpang.
Bayangkan saja, untuk
menjaga kesehatan puluhan ribu ekor sapi dan jutaan unggas yang tersebar di 15
kecamatan, Kabupaten Batang saat ini praktis hanya mengandalkan satu orang
dokter hewan aktif.
Sekretaris Dinas Pangan
dan Pertanian (Dispaperta) Batang Syam Manohara, tidak menutupi kondisi sulit
ini. Baginya, jumlah tenaga medis yang ada saat ini sudah berada di titik
nadir.
“Kalau untuk kebutuhan
dokter hewan di Kabupaten Batang, saya rasa sangat-sangat kurang,†katanya saat
ditemui di Kantornya, Kamis (26/3/2026).
Padahal, sebelumnya
Batang memiliki tiga dokter hewan. Namun, dua di antaranya telah ditarik
menjadi pegawai pusat. Kini, beban berat itu jatuh sepenuhnya ke pundak drh.
Ambar Puspitaningrum.
Data populasi ternak di
Batang memang mencengangkan jika dibandingkan dengan jumlah tenaga medisnya:
* Sapi: ± 17.000 ekor
* Kambing: ± 35.000 ekor
* Domba: ± 25.000 ekor
* Unggas: Mendekati 4.000.000 ekor
“Meski dibantu oleh
sekitar 23 hingga 26 paramedis di lapangan, peran dokter hewan tetap tak
tergantikan secara hukum dan medis. Diagnosis penyakit hingga penentuan dosis
obat wajib berada di bawah supervisi dokter,†jelasnya.
Kondisi ini memaksa dokter
hewan Ambar untuk "hadir" di banyak tempat sekaligus dalam waktu
bersamaan, meskipun hanya lewat layar ponsel. Terutama saat wabah Penyakit
Mulut dan Kuku (PMK) menyerang, teknologi menjadi penyelamat di tengah
keterbatasan fisik.
“Dokter Ambar harus
memonitor 24 jam, bahkan lewat video call untuk pengobatan dan vaksinasi. Karena
paramedis tidak bisa langsung menentukan dosis atau tindakan tanpa penyeliaan
dokter,†terangnya.
Dokter hewan Ambar
sendiri mengakui, bahwa ritme kerja ini sangat menguras energi. Sebagai pejabat
otoritas veteriner satu-satunya, ia harus sigap menerima laporan dari seluruh
penjuru Batang.
“Kalau ditanya
kewalahan, ya memang kewalahan. Biasanya mereka (paramedis) langsung telepon
kalau ada kasus darurat,†ungkapnya.
Harapan
pada Formasi Baru
Secara ideal, setiap
kecamatan atau setidaknya setiap Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan Rumah
Potong Hewan (RPH) memiliki satu dokter hewan tetap. Namun, realita di Batang
menunjukkan RPH pun belum memiliki dokter hewan sendiri.
Dispaperta berharap,
ada rekrutmen CPNS mendatang. Penambahan minimal tiga hingga empat dokter hewan.
(MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)