Batang — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang dan Yayasan Darul Falah menggelar kegiatan Darul Falah Syiar Ramadhan 1447 H sekaligus Santunan Kaum Dhuafa dan Pembagian Zakat bersama Inayah Wahid dengan tema, "Kelirumologi Spiritual Ramadan di Era Postmodern", di Masjid Darul Falah Sidosari, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Selasa (10/3/2026).
Batang — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Batang dan Yayasan Darul Falah menggelar kegiatan Darul Falah Syiar Ramadhan 1447 H sekaligus Santunan Kaum Dhuafa dan Pembagian Zakat bersama Inayah Wahid dengan tema, "Kelirumologi Spiritual Ramadan di Era Postmodern", di Masjid Darul Falah Sidosari, Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan diawali dengan
festival santri Taman Pendidikan Alquran (TPQ), khotmil Quran, santunan bagi
kaum dhuafa, serta penyerahan zakat dari wakif masjid Haji Iswanto dan Wahyu
Wulandari sebanyak 2 ton beras serta 150 paket sembako.
Ning Inayah Wahid
menyoroti kesalahpahaman publik tentang puasa Ramadan. Menurutnya, banyak orang
menganggap puasa berat hanya karena menahan lapar dan haus, bahkan memandang
Ramadan sebagai bentuk pembatasan.
“Padahal Ramadan bukan
limitasi, tetapi justru pembebasan. Kita belajar membebaskan diri dari nafsu
dan keinginan sesaat serta menguatkan nilai kesabaran dan kemanusiaan,†jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa Islam
merupakan agama pembebasan yang mendorong umatnya untuk turut membebaskan
sesama dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakpedulian. Dalam kesempatan itu,
ia juga menyinggung kebijakan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid, yang
mengembalikan kebebasan masyarakat Tionghoa merayakan Imlek secara terbuka di
Indonesia. Menurutnya, hal tersebut menjadi contoh nyata semangat pembebasan
dalam kehidupan berbangsa.
“Kalau ada yang
mengatakan Indonesia gelap, yang dimaksud bukan masyarakatnya, tetapi hubungan
antara negara dan rakyatnya,†imbuhnya.
Sementara itu, Ketua
Tanfidziyah PCNU Batang, Ahmad Munir Malik bersyukur selama dua tahun terakhir
selalu dihadiri keluarga besar Abdurrahman Wahid. Tahun sebelumnya,
berkesempatan sahur bersama Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.
“Tahun lalu, kita sahur
bersama Ibu Sinta Nuriyah. Kali ini, kita bersama putri bungsu beliau, Mbak
Inayah. Kalau Ibu Sinta itu ibunya negara, maka Mbak Inayah ini anak negara,†terangnya.
Munir menjelaskan,
rangkaian kegiatan Syiar Darul Falah telah dimulai sejak siang hari dengan
Festival Santri TPQ sebagai upaya menumbuhkan semangat generasi muda dalam
menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Ke depan, pihaknya
berharap kawasan Masjid Darul Falah tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi
juga berkembang menjadi pusat pendidikan dari jenjang usia dini hingga
pendidikan yang lebih tinggi,†ungkapnya.
Industrialisasi tentu
membawa dampak sosial dan budaya. Karena itu, kita perlu menyiapkan benteng
nilai dan pendidikan agar generasi kita tetap kuat memegang Islam Ahlussunnah
wal Jamaah.
Munir juga mengajak
masyarakat Sidosari, Ketanggan, dan sekitarnya untuk bersama-sama mendukung
pengembangan kawasan tersebut sebagai pusat penguatan nilai-nilai keislaman. Ia
berharap kehadiran Ning Inayah dapat mengobati kerinduan masyarakat kepada
sosok Gus Dur sekaligus menjadi penguat harapan bagi kondisi bangsa ke depan.
“Semoga wejangan dari
Mbak Inayah malam ini dapat mengobati kerinduan kita kepada Gus Dur dan menjadi
doa bersama agar kondisi negara dan dunia semakin membaik,†pungkasnya. (MC
Batang, Jateng/Edo/Siska)