Batang - Suasana di SMKN 1 Kandeman, Kabupaten Batang tampak berbeda. Ratusan guru Sekolah Dasar (SD) dari Kecamatan Tulis berkumpul bukan untuk mengajar, melainkan untuk kembali menjadi "murid". Melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) Lingkar Pena, mereka merayakan Hari Belajar Guru 2026 sebagai wadah peningkatan kompetensi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Batang - Suasana di SMKN 1 Kandeman, Kabupaten Batang tampak berbeda. Ratusan guru Sekolah Dasar (SD) dari Kecamatan Tulis berkumpul bukan untuk mengajar, melainkan untuk kembali menjadi "murid". Melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) Lingkar Pena, mereka merayakan Hari Belajar Guru 2026 sebagai wadah peningkatan kompetensi di tengah derasnya arus digitalisasi.
Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang Bambang Suryantoro Soedibyo, hadir langsung
untuk memberikan suntikan semangat. Ia menekankan bahwa di era pendidikan
modern, peran guru tidak boleh stagnan. Guru harus bergerak dinamis mengikuti
perkembangan zaman.
“Tadi sudah disampaikan
panitia bahwa kegiatan ini sangat bagus dilaksanakan para guru. Hari Belajar
Guru itu perlu, karena mereka bisa berkumpul, saling tukar informasi apa yang
ada di sekolah masing-masing, bertemu dengan sekolah lain, sehingga muncul
inovasi dan meningkatkan mutu pendidikan di Batang,†katanya saat ditemui di
Aula SMKN 1 Kandeman, Kabupaten Batang, Rabu (11/2/2026).
Bambang juga
mengingatkan, bahwa esensi seorang pendidik adalah menjadi pembelajar abadi. Ia
tidak ingin ada jarak pengetahuan yang terlalu lebar antara guru dan murid
akibat ketidaksiapan menghadapi aturan atau ilmu baru.
“Yang belajar tidak
hanya siswa. Guru juga perlu belajar karena banyak aturan dan ilmu baru yang
harus dipelajari. Jangan sampai muridnya sudah tahu, gurunya belum. Belajar itu
tidak akan ada habisnya, sepanjang hayat,†jelasnya.
Menariknya, kegiatan
ini menjadi jembatan antara guru senior dan junior. Ketua PGRI Batang M. Arief
Rohman memaparkan, bahwa saat ini peta demografi pendidik di Batang didominasi
oleh wajah-wajah muda.
“Dari total sekitar
5.000 guru, 70 persen di antaranya merupakan generasi muda, sementara 30 persen
lainnya mendekati masa purna tugas,†terangnya.
Dari sisi
profesionalisme, Arief mencatat capaian positif: 98 persen guru di Batang telah
mengantongi sertifikasi. Sisanya hanya tinggal menunggu antrean Program
Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari pemerintah pusat.
Manfaat nyata dari
pertemuan ini dirasakan langsung oleh para peserta, salah satunya Isnaini
Imaniah (30). Guru PAI dari SDN Posong 01 ini mengaku antusias mendalami
kurikulum terbaru dan teknik pembelajaran berbasis digital atau Implementasi
IHP.
“Luar biasa, karena ini
menambah ilmu. Guru selain mengajar murid juga harus belajar lagi. Kurikulum
kan baru, jadi kita juga harus terus belajar supaya bisa menyampaikan dengan
baik ke murid,†ungkapnya.
Bagi Isnaini, tantangan
terbesar saat ini adalah kecepatan anak didik dalam menyerap teknologi. Guru
dituntut untuk tidak boleh kalah langkah.
“Anak-anak sekarang
sudah pintar digital. Di Hari Belajar Guru ini, guru yang masih gaptek dilatih
supaya bisa mengimbangi murid-murid yang sudah melek teknologi,†pungkasnya.
(MC Batang, Jateng/Edo/Siska)