Batang - Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya kembali menggelar pelatihan terpadu budidaya kopi, secara berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Sebagai pemateri dari Yuly Palawija Batang Coffee, Sustanto memaparkan strategi agar ke depan para anggota KUPS mampu menjalin kemitraan dengan pihak terkait, agar produknya mampu memenuhi selera pasar.
Batang - Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya kembali menggelar pelatihan terpadu budidaya kopi, secara berkelanjutan dengan berkolaborasi bersama Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Sebagai pemateri dari Yuly Palawija Batang Coffee, Sustanto memaparkan strategi agar ke depan para anggota KUPS mampu menjalin kemitraan dengan pihak terkait, agar produknya mampu memenuhi selera pasar.
Sustanto
mengharapkan, agar para anggota KUPS berkembang makin maju dan bergerak secara
konsisten mengupayakan agar kualitas kopi yang dihasilkan dapat diterima pasar
luas.
“Semoga
KUPS dari berbagai desa bisa menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas
pecinta kopi, sehingga memperluas penjualan produk sesuai keinginan konsumen,â€
katanya saat ditemui di Deles Dharmawangsa Agro Forestry, Kecamatan Bawang,
Kabupaten Batang, Minggu (8/2/2026).
Setelah
anggota KUPS memperoleh pengetahuan secara mendalam, nantinya dapat menjual
produk-produknya langsung kepada pembeli atau pasar yang telah bermitra. Ia
mengharapkan tidak hanya pola dan ilmu penjualan produk yang diserap, namun
lebih dari itu, mampu melakukan penanaman kembali agar meningkatkan bibit kopi
terbaiknya.
“Hasil
penjualannya tidak seluruhnya dinikmati, tapi bisa untuk mempersiapkan
penanaman berikutnya. Jadi pascapanen, bibit kopi akan terpenuhi, demi kualitas
yang terus makin baik,†jelasnya.
Para
peserta yang didominasi kaum perempuan dilatih secara intensif, agar terus
mengembangkan potensi kopi, hingga mampu membantu menggerakkan perekonomian
keluarganya.
Ketua
Kups Perempuan Desa Bismo Blado Sumini mengharapkan, pelatihan ini membawa
dampak positif bagi para kaum ibu untuk berperan aktif membantu perekonomian
keluarga.
“Ilmunya
bermanfaat sekali, karena langsung dari pakarnya. Saya pingin kalau sudah dapat
ilmunya bisa mendapatkan keuntungan terus hasilnya ditabung buat kebutuhan di
masa depan,†ungkapnya.
Di
sisi lain, pengelolaan kopi oleh KUPS Perempuan masih menghadapi berbagai
tantangan, antara lain penerapan teknik budidaya yang belum sepenuhnya berkelanjutan,
keterbatasan pengetahuan pasca panen. Ini berdampak pada mutu produk, serta
belum optimalnya akses pasar dan kemitraan dengan pelaku usaha kopi.
“Sementara
permintaan pasar terhadap kopi yang diproduksi secara berkelanjutan, ramah
lingkungan, dan memiliki nilai sosial terus meningkat. Jadi pelatihan ini
memang kami butuhkan, agar produk yang dihasilkan berkualitas,†ujar dia. (MC
Batang, Jateng/Heri/Jumadi)