Batang Alur Sungai Sambong di kawasan TPI Klidang Lor kini tengah menjadi perhatian serius. Penumpukan sedimentasi yang kian menebal bukan sekadar isu lingkungan, melainkan hambatan nyata bagi roda ekonomi nelayan lokal. Guna mengurai benang kusut tersebut, jajaran Pemkab Batang menggelar rapat koordinasi strategis di awal tahun ini.
Batang Alur Sungai Sambong di kawasan TPI Klidang Lor kini tengah menjadi perhatian serius. Penumpukan sedimentasi yang kian menebal bukan sekadar isu lingkungan, melainkan hambatan nyata bagi roda ekonomi nelayan lokal. Guna mengurai benang kusut tersebut, jajaran Pemkab Batang menggelar rapat koordinasi strategis di awal tahun ini.
Fokus utamanya satu: memastikan
kapal-kapal nelayan bisa melaut tanpa terjebak dangkalnya muara. Hal ini
disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Batang
Agung Wisnu Bharata saat pertemuan dengan Pj Sekda Batang dan Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah di Ruang Abirawa Bupati Batang, Kabupaten Batang, Selasa
(27/1/2026).
Agung Wisnu Bharata mengungkapkan,
bahwa langkah konkret telah masuk dalam peta jalan tahun ini. Melalui PPP
Klidang Lor, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengunci anggaran awal untuk
menjaga nafas pelabuhan.
“DKP Provinsi Jawa Tengah melalui
PPP Klidang Lor pada tahun 2026 telah mengalokasikan anggaran pengerukan
sebesar Rp50 juta dan perbaikan breakwater sisi timur sebesar Rp144 juta,†jelasnya.
Tak berhenti di situ, rencana
jangka panjang untuk tahun 2027 pun sudah dibidik. Nantinya, akan ada
penambahan anggaran pengerukan, peninggian jeti, hingga pembangunan tempat
tambat labuh baru di area eks Sungai Sambong yang merupakan aset milik Pemprov Jateng.
“Selain masalah lumpur, tantangan
lain yang dihadapi adalah kesemrawutan parkir kapal. Dalam rapat tersebut,
disepakati pembentukan tim khusus untuk mendata kapal yang masih aktif maupun
yang sudah menjadi "bangkai",†teangnya.
Tim ini akan bekerja sama dengan
Syahbandar Perikanan dan Pengawas Perikanan untuk menyisir sepanjang Sungai
Sambong. Tujuannya jelas, yakni membersihkan kolam tambat labuh dari
kapal-kapal rusak yang selama ini hanya mempersempit ruang gerak nelayan.
Suara nelayan yang diwakili oleh
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batang Teguh Tarmujo, turut
memberikan catatan penting bagi pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa solusi
pengerukan harus dibarengi dengan kesiapan alat yang mumpuni.
Teguh mengusulkan agar Baperrida
Kabupaten Batang menambah anggaran pada APBD 2026, khususnya untuk pembongkaran
kapal dan pengadaan alat berat.
“Perlu pengadaan alat kapal keruk
yang baru karena kapal yang ada saat ini sudah perlu dilakukan peremajaan,â€
tegasnya.
Hasil Rekomendasi Utama:
* Surat Permohonan Resmi: Pemkab Batang
disarankan segera bersurat kepada DPUPR Provinsi Jawa Tengah terkait pengerukan
dan pembangunan pengendali sedimen.
* Optimalisasi Aset: Pemanfaatan lahan Pemprov
Jateng di eks Sungai Sambong untuk tambat labuh baru.
* Manajemen Kapal: Pendataan dan pembersihan
kapal non-aktif guna melancarkan arus lalu lintas sungai.
“Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi titik balik bagi nelayan Klidang Lor agar Muara Sambong kembali dalam kondisi ideal, mendukung aktivitas perikanan yang menjadi urat nadi warga Batang,†pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)