Batang Persoalan banjir di wilayah perkotaan Kabupaten Batang menjadi rapor merah yang terus dicarikan solusinya oleh pemerintah daerah. Bukan sekadar wacana, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Batang kini tengah mematangkan 17 rencana strategis untuk meminimalisir dampak genangan yang kerap menghantui warga.
Batang Persoalan banjir di wilayah perkotaan Kabupaten Batang menjadi rapor merah yang terus dicarikan solusinya oleh pemerintah daerah. Bukan sekadar wacana, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Batang kini tengah mematangkan 17 rencana strategis untuk meminimalisir dampak genangan yang kerap menghantui warga.
Kepala DPUPR Batang Endro
Suryono mengungkapkan, bahwa pihaknya bersama Penjabat Bupati telah terjun
langsung memetakan titik-titik krusial. Identifikasi masalah ini menjadi
fondasi sebelum alat berat diturunkan ke lapangan.
“Banjir dulu kita sudah
identifikasi semua, sudah ada kajian tinggal nanti tindak lanjutnya seperti apa
yang akan kita eksekusi,†katanya saat ditemui di Aula Kantor Bupati Batang,
Kabupaten Batang, Senin (19/1/2026).
Salah satu "senjata
utama" yang disiapkan adalah pembangunan Embung Kalipucang. Proyek ini
diproyeksikan menjadi bak penampungan raksasa untuk memecah debit air sebelum
masuk ke jantung kota. Namun, karena membutuhkan dana besar sekitar Rp30 miliar,
Pemkab Batang kini tengah melobi pusat.
“Betul, jadi Embung
Kalipucang itu salah satunya sudah tahun kemarin, tahun 2025 sudah ada FS-nya
(Feasibility Study). Kita mengajukan di Kementerian PUPR kurang lebih sekitar Rp30
miliar. Kita belum bisa menjawab apakah di 2027 atau 2028 karena embung itu,â€
jelasnya.
Sembari menunggu proyek
raksasa tersebut, Endro menegaskan ada langkah jangka pendek yang dieksekusi
tahun 2026 ini. Fokus utamanya adalah perbaikan drainase di jalur protokol
seperti Jalan R.E. Martadinata dan Jalan Yos Sudarso.
“Langkah ini diambil
untuk memecah tumpukan air yang biasanya tertahan di Jalan Ahmad Yani. Yang Jl Yos
Sudarso itu yang dari Jl A.Yani dan dari Jl RE Martadinata yang dari
penjaringan itu nanti insyaallah akan kita kerjakan di tahun 2026 ini,†terangnya.
Melawan Rob dan
Normalisasi Sungai
Endro tak menampik bahwa
banjir di Batang merupakan hasil "keroyokan" antara curah hujan
ekstrem dan fenomena rob. Berdasarkan pengamatannya pada pertengahan Januari
lalu, kenaikan air laut memang sedang berada pada puncaknya.
Sebagai solusi cepat
sebelum memasuki masa Lebaran, DPUPR akan fokus pada pembersihan sisa-sisa
sumbatan di aliran sungai lama.
“Apa sih yang Pemda akan
lakukan? Salah satunya ya nanti kita akan normalisasi eks Sambong, insyaallah
semoga sebelum Lebaran kita sudah bisa normalisasi yang eceng gondok,†tegasnya.
Terkait kewenangan yang
berada di bawah Provinsi maupun Pusat, seperti pembangunan tanggul hingga ke
hilir Nomban, Endro memastikan pihaknya tidak tinggal diam dan terus bersurat
agar segera ada penanganan permanen. (MC Bagang, Jateng/Edo/Sri Rahayu)