Home / Berita / Pendidikan / GURU SMPN 3 BATANG SIAP BIMBING SISWA HADAPI AKM

Berita

Guru SMPN 3 Batang Siap Bimbing Siswa Hadapi AKM

Batang - Kemajuan dalam dunia pendidikan semakin tidak bisa terelakkan lagi. Terbukti dengan kesiapan para guru SMPN 3 Batang untuk membimbing anak didiknya menghadapi perubahan pola mengerjakan soal yang semula harus berfokus pada satu pembahasan materi, namun kini berubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), yang menuntut kemampuan penalaran anak didik dalam menelaah sebuah permasalahan, kemudian menemukan solusi untuk memecahkannya.

Batang - Kemajuan dalam dunia pendidikan semakin tidak bisa terelakkan lagi. Terbukti dengan kesiapan para guru SMPN 3 Batang untuk membimbing anak didiknya menghadapi perubahan pola mengerjakan soal yang semula harus berfokus pada satu pembahasan materi, namun kini berubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), yang menuntut kemampuan penalaran anak didik dalam menelaah sebuah permasalahan, kemudian menemukan solusi untuk memecahkannya.

Kepala SMPN 3 Batang, Bambang Purwantyono mengatakan, sebagai contoh dalam mata pelajaran matematika, satu soal dapat memunculkan beberapa pertanyaan yang mengharuskan anak didik mampu menganalisis, merencanakan, melakukan suatu tindakan kemudian mengevaluasinya.

“Kalau betul-betul bisa dilaksanakan maka harapan ke depan akan semakin baik, karena cara bersikap bapak/ibu guru dalam menyampaikan kepada anak didiknya, agar mampu menilai dan mengevaluasi suatu peristiwa,” tutur Bambang Purwantyono, saat diwawancarai usai mengikuti Gladi Bersih AKM bersama para guru, di Laboratorium Komputer SMPN 3 Kabupaten Batang, Rabu (4/3/2020).

Dijelaskannya, AKM tidak hanya menuntut untuk menyelesaikan permasalahan dalam suatu soal saja, tetapi diterapkan pula dalam kehidupan sehari-hari.

“Misalkan satu kaleng susu harganya Rp17.000,00 dan satu kaleng coklat Rp15.000,00. Kemudian jika berbelanja pada hari Sabtu, Minggu dan Senin pembeli akan mendapatkan potongan harga tertentu. Seandainya ada perintah soal, jika harus belanja dua kaleng susu dan coklat, maka dengan berbelanja di hari Sabtu, Minggu atau Senin, berapa jumlah uang yang harus dibayarkan?,” tuturnya.

Menurut Bambang, dalam AKM siswa dituntut kepiawaiannya dalam menggunakan penalarannya secara lebih jeli.

“AKM membutuhkan keseriusan anak didik dalam belajar untuk membahas soal itu, maka para guru harus banyak memberikan latihan, supaya siswa tidak hanya berfokus pada satu saja, tetapi harus beberapa hal yang terkait pembahasan dalam satu soal,” terangnya.

Ia berharap, jika AKM berhasil diterapkan, anak-anak penerus bangsa ini menjadi pribadi yang luar biasa, karena berkemampuan ganda dalam menyelesaikan permasalahan di masa depan.

Sementara, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Batang, Sabar Mulyono menambahkan, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) merupakan sistem yang menggunakan komputer, sedangkan soal-soal yang diujikan berbentuk AKM.

“Tahun ini Ujian Nasional masih menguji, menilai atau mengevaluasi kompetensi siswa. Tapi kalau nanti sudah menggunakan AKM, fungsinya dalam rangka menguji atau mengevaluasi Satuan Pendidikan, sebagai dasar pemetaan,” pungkasnya.

Sabar menerangkan, apabila hasil dari AKM nilainya belum memenuhi syarat, berarti Satuan Pendidikan itu harus melakukan perbaikan dalam bidang pengajaran maupun evaluasi. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)