Home / Berita / Pendidikan / KURANGI PEMAKAIAN PLASTIK DI LINGKUNGAN SEKOLAH

Berita

Kurangi Pemakaian Plastik di Lingkungan Sekolah

Batang - Perhatian masyarakat dunia sekarang ini tertuju pada menumpuknya sampah plastik, yang sulit terurai hingga puluhan ribu tahun lamanya. Sehingga melalui peringatan World Cleanup Day 2019, membuat warga SMPN 3 Batang bersemangat untuk membersihkan lingkungan sekolah dan sekitarnya, agar bebas dari sampah plastik.

Wakil Kepala SMPN 3 Batang, Eminingsih mengatakan, kegiatan warga sekolah untuk mendukung World Cleanup Day, membersihkan sampah,nyang terdiri dari organik, anorganik dan residu dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

“Kami pisah-pisahkan menjadi tiga bagian, kemudian ditimbang berapa berat sampah yang berhasil dikumpulkan. Berat sampah organik 153 kg, anorganik 56 kg dan residu 117 kg,” jelasnya di halaman SMPN 3 Kabupaten Batang, Sabtu (21/9/2019).

Eminingsih mengharapkan, anak-anak didik mengurangi pemakaian plastik, karena terbuat dari bahan yang sulit terurai hingga 50.000 tahun. 

“Maka kami menyiapkan program khusus, untuk kantin sekolah yang telah menjadi “Kantin Sehat”, karena sudah mendapatkan sertifikat kantin layak sehat dan piagam Bintang I,” terangnya.

Program ke depan, lanjut Eminingsih, kantin bebas dari sampah plastik. Artinya kantin tidak menyiapkan lagi plastik untuk tempat minum.

“Biasanya kan kalau anak beli es teh, itu kan pakai plastik dan sedotan, diharapkan tidak ada lagi besok. Solusinya berarti anak harus membawa tempat minum dari rumah, yang penting bukan yang terbuat dari bahan plastik atau kaca,” ungkap guru yang mengampu mata pelajaran matematika.

Eminingsih menambahkan, perlu diketahui, setiap harinya petugas kebersihan harus membersihkan sampah dari kantin sekolah hingga dua gerobak.

Sementara itu, Azzahra salah satu siswi mengutarakan, bahaya dari sampah plastik banyak sekali, apalagi yang masih menjadi masalah yang menuju ke laut. 

“Contohnya plastik sedotan yang dimakan oleh biota laut, yang menjadikan setiap harinya ada 100 jenis ikan mati, akibat sampah yang mencemari habitatnya,” katanya.

Di lingkungan sekitar sekolah, Azzahra lebih banyak menemukan sampah plastik seperti sedotan dan sangat jarang ditemukan sampah yang dapat didaur ulang. Melihat kondisi bumi yang dibanjiri sampah plastik, membuat siswi kelas IX itu merasa miris dan sedih. 

“Namun sebisa mungkin kita menggunakan bahan plastik yang bisa digunakan lebih dari satu kali. Seperti penggunaan sedotan stainless steel, yang bisa dicuci lalu dipakai lagi,” terangnya.

Senada dengan argumen dari gurunya, Azzahra pun mempunyai pandangan yang sama untuk menggunakan peralatan makan dan minum dari rumah, sehingga dapat mengurangi timbunan sampah plastik.

“Aku yakin itu bisa meminimalisasi plastik, walaupun hanya di lingkungan aku,” ujarnya.

Jujur saja, lanjutnya, sebenarnya tidak bisa lepas dari kantong plastik. Tapi semenjak pemerintah memberlakukan kantong plastik berbayar, timbul kesadaran diri untuk membawa tote bag (tas jinjing) ke minimarket. 

“Kita mengurangi itu bukan menghilangkan, tapi tidak menambah jumlah sampah,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Heri)