Home / Berita / Pendidikan / BATANG KOTA YANG NYAMAN BAGI PENDATANG

Berita

Batang Kota yang Nyaman Bagi Pendatang

Batang - Tepat rasanya jika Batang termasuk kategori kota yang nyaman bagi kaum pendatang, untuk menuntut ilmu. Terbukti mereka dapat menempuh pendidikan, dengan lancar dan mampu berbaur dengan teman-teman sebayanya. 

Seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh saudara-saudara kita dari Papua, yang menuntut ilmu di SMKN 1 Kandeman, yang aman dan nyaman berada di tengah-tengah masyarakat Batang.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala SMKN 1 Kandeman, Suyanta, saat ditemui di ruang kerjanya, SMKN 1 Kandeman, Kabupaten Batang, Kamis (5/9/2019).

“SMKN 1 Kandeman, sudah dua tahun ini mendapat kepercayaan dari Direktorat PSMK, untuk mendidik siswa asal Papua yang berprestasi, agar pendidikannya disetarakan dengan Jawa Tengah,” tuturnya.

Selama bersekolah, komunikasi anak-anak dari Papua dengan guru, karyawan dan siswa lain juga terjalin dengan baik. Sehingga hal itu membuat Suyanta bersyukur dan berkeyakinan, bahwa Kabupaten Batang ini, daerah yang sangat nyaman dan tepat bagi saudara-saudara kita dari luar Jawa Tengah, termasuk Papua untuk memperoleh pendidikan yang sama.

“Sekolah kami ini sudah dua kali meluluskan siswa-siswi dari Papua yaitu Musa, Martin dan Jeny di tahun pelajaran 2016/2017 dan 2017/2018. Mereka yang lolos seleksi dari Papua, kemudian ditempatkan di sekolah-sekolah di Jawa Tengah dan salah satunya adalah SMKN 1 Kandeman,” ungkapnya.

Untuk menjaga rasa guyub rukun antar warga sekolah, Suyanta menerapkan prinsip tidak membeda-bedakan pendatang atau putra daerah. Tetapi semuanya adalah sama di  mata pendidikan.

“Di seluruh lapisan kegiatan pendidikan apapun, seperti ekstra kurikuler, intra kurikuler, bina prestasi dan termasuk dalam kegiatan keagamaanpun, kami tidak membeda-bedakan, semua mendapatkan haknya beribadah sesuai keyakinannya,” paparnya.

Ia menegaskan, semua siswa dari Papua mudah menyesuaikan dengan teman-teman di sekolah. Contohnya adalah Wiliam Yewen yang sudah seperti anak sendiri, dan tidak dianggap sebagai pendatang lagi. 

“Kita sudah mengatakan NKRI harga mati, mari kita kelola bersama dengan tidak membedakan suku, agama, ras dan antargolongan. Kalau asal mereka dari Sabang sampai Merauke, ya ini adalah saudara kita, maka persatuan dan kesatuan terjalin agar  kedamaian hidup berdampingan dapat terwujud,” pungkasnya.

Sementara itu, Wiliam Yewen siswa kelas XI asal Papua Barat menuturkan, selama tinggal di Batang dirinya bersama Vrits Wabea kelas X dan Calvin Hendrik Wenggi kelas XII, merasa nyaman, karena semua sudah menjadi saudara sendiri, seperti di Papua.

Ia memandang penting sebuah pendidikan, karena tujuan utamanya adalah untuk menjadi orang yang berguna dan dapat membangun daerah. 

“Aku harus sekolah sampai selesai, dan akan melanjutkan kuliah di IPDN,” harap siswa yang juga menyabet juara I Popda untuk cabang atletik lari.

Kalau sudah menjadi orang sukses, lanjutnya, harus memiliki sikap tegas, membawa masyarakat menjadi satu, saling membantu dan menolong, demi membangun daerah untuk maju.

“Pesanku buat orang tua, keluarga dan saudara di Papua, aku di sini baik juga aman. Sama seperti di Papua, di sini juga sudah menjadi keluarga yang baik,” pungkasnya.

Wiliam yang telah menjadi atlet lari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar ini, sudah menyabet berbagai kejuaraan diantaranya, juara II se-Eks Karesidenan Pekalongan, juara I tingkat Kabupaten Pekalongan dan juara I tingkat Kabupaten Batang.  (MC Batang, Jateng/Heri)