PUPUK Surabaya Kembangkan Kualitas Kopi Silurah Berbasis Budaya
Batang - Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya menggandeng Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang kini menyasar Desa Silurah Wonotunggal. Lewat Festival Kopi dan Peradaban dengan tema “Dari Tradisi ke Inovasi”, yakni Nyadran Gunung, PUPUK berupaya melakukan pengembangan produk produk berbasis kopi dan budaya lokal.
Batang - Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya menggandeng Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang kini menyasar Desa Silurah Wonotunggal. Lewat Festival Kopi dan Peradaban dengan tema “Dari Tradisi ke Inovasi”, yakni Nyadran Gunung, PUPUK berupaya melakukan pengembangan produk produk berbasis kopi dan budaya lokal.
Masyarakat
Desa Silurah berupaya mengangkat kembali “KOPI” sebagai simbol peradaban dan
penghidupan. Festival ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya melalui
tradisi Nyadran Gunung tetapi juga wadah untuk mendorong inovasi ekonomi
kreatif masyarkat terutama KUPS Perempuan di Kabupaten Batang.
NGO
PUPUK Surabaya selaku Pendamping KUPS Endang S mengharapkan, para anggota KUPS
makin memahami mana saja kopi yang berkualitas, sehingga bisa memenuhi
kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
“Tahun
depan diharapkan para petani kopi Silurah ini bisa mengumpulkan kopi-kopi
berkualitas sesuai permintaan konsumen,” katanya, saat ditemui di Desa Silurah,
Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Kamis (13/11/2025).
Anggota
KUPS Melati Sejahtera, Kusup dari Desa Pesantren, Blado mengungkapkan Festival
Kopi Peradaban ini menambah khazanah pengetahuan dalam serba-serbi kopi.
“Kami
jadi makin memahami kopi yang berkualitas dan sesuai keinginan konsumen,”
terangnya.
Panitia
even Festival Kopi Peradaban, Amir Prasetyo mengharapkan, agar even yang
dikolaborasikan dengan edukasi kepada para petani sangat positif dan bermanfaat
bagi kelangsungan mereka dalam menghasilkan kopi berkualitas.
“Yang
jelas ini perlu diagendakan sesering mungkin, jangan berhenti sampai di sini
saja, tapi ada keberlanjutan,” tegasnya.
Sementara
itu, Kepala Baperida Batang Ari Yudianto mengapresiasi karena tanaman dan
produk kopi di Kabupaten Batang makin maju dan dikenal luas, sehingga rakyat
khususnya para petani merasakan manfaatnya secara langsung. Yang tidak kalah
pentingnya, upaya yang dilakukan PUPUK Surabaya ini, merupakan wujud
"Ekonomi Hijau".
“Jadi
dari sisi ekonominya meningkatkan kualitas hidup petaninya, namun dari sisi
kelestarian hutannya tetap terjaga. Inilah yang namanya prinsip "Ekonomi
Hijau",” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Sri Rahayu)